wanna be a politicus

wanna be a politicus

Senin, 28 November 2011

Makalah Transplantasi Organ Dalam Islam


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
                 Seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, dunia juga mengalami perkembangannya di berbagai bidang.  Salah satunya adalah kemajuan di bidang kesehatan yaitu  teknik transplantasi organ.  Transplantasi organ merupakan suatu teknologi medis untuk penggantian organ tubuh pasien yang tidak berfungsi dengan organ dari individu yang lain. Sampai sekarang penelitian tentang transplantasi organ masih terus dilakukan.
Sejak kesuksesan transplantasi yang pertama kali berupa ginjal dari donor kepada pasien gagal ginjal pada tahun 1954, perkembangan di bidang transplantasi maju dengan pesat. Permintaan untuk transplantasi organ terus mengalami peningkatan melebihi ketersediaan donor yang ada. Sebagai contoh di Cina, pada tahun 1999 tercatat hanya 24 transplantasi hati, namun tahun 2000 jumlahnya mencapai 78 angka. Sedangkan tahun 2003 angkanya bertambah 356. Jumlah tersebut semakin meningkat pada tahun 2004 yaitu 507 kali transplantasi. Tidak hanya hati, jumlah transplantasi keseluruhan organ di China memang meningkat drastis. Setidaknya telah terjadi 3 kali lipat melebihi Amerika Serikat. Ketidakseimbangan antara jumlah pemberi organ dengan penerima organ hampir terjadi di seluruh dunia.
Sedangkan transplantasi organ yang lazim dikerjakan di Indonesia adalah pemindahan suatu jaringan atau organ antar manusia, bukan antara hewan ke manusia, sehingga menimbulkan pengertian bahwa transplantasi adalah pemindahan seluruh atau sebagian organ dari satu tubuh ke tubuh yang lain atau dari satu tempat ke tempat yang lain di tubuh yang sama. Transplantasi ini ditujukan untuk mengganti organ yang rusak atau tak berfungsi pada penerima.
Saat ini di Indonesia, transplantasi organ ataupun jaringan diatur dalam UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Sedangkan peraturan pelaksanaannya diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat atau Jaringan Tubuh Manusia. Hal ini tentu saja menimbulkan suatu pertanyaan tentang relevansi antara Peraturan Pemerintah dan Undang-Undang dimana Peraturan Pemerintah diterbitkan jauh sebelum Undang-Undang. (Binchoutan,2008)
Penulis mengambil tema makalah Transplantasi organ dikarenakan maraknya kasus transplantasi di Indonesia serta masih adanya pro dan kontra di kalangan masyarakat maupun dunia kesehaan tentang etis dan tidaknya praktek transplantasi organ.
                                                                                                     
B.  Pokok Permasalahan
1.    Apa pengertian Transplantasi Organ
2.    Apa saja klasifikasi Transplantasi Organ
3.    Apa penyebab Transplantasi Organ
4.    Bagaimana pandangan agama mengenai transplantasi organ
5.    Bagaimana aturan transplantasi Organ dari Segi Hukum
6.    Bagaimana Transplantasi Organ dari dilihat dari Segi Etika Keperawatan
7.    Bagaimana Transplantasi Organ dilihat dari Segi Norma Masyarakat

C.  Tujuan
a.   Tujuan Umum
                  Mengetahui praktek transplantasi organ di dunia pada umumnya dan praktek transplantasi organ di Indonesia pada khususnya  dilihat dari sudut dilema etik.
b.   Tujuan Khusus
1.   Mengetahui pengertian transplantasi organ
2.   Mengetahui Klasifikasi transplantasi organ
3.   Mengetahui penyebab transplantasi organ
4.   Mengetahui transplantasi organ dari segi agama
5.   Mengetahui transplantasi organ dari segi hukum
6.   Mengetahui transplantasi organ dari segi etika keperawatan
7.   Mengetahui transplantasi organ dari segi norma masyarakat

D.  Manfaat
1.      Bagi penulis :
1.      Makalah ini disusun sebagai syarat mengikuti Ujian Tengah Semester
2.      Sebagai sarana memperluas wawasan mengenai transplantasi organ
2.      Bagi Pembaca :
Sebagai sarana mengetahui apa itu transplantasi organ




BAB II
KONSEP

A.  Definisi Transplantasi Organ
Donor organ atau lebih sering disebut transplantasi adalah pemindahan suatu jaringan atau organ manusia tertentu dari suatu tempat ke tempat lain pada tubuhnya sendiri atau tubuh orang lain dengan persyaratan dan kondisi tertentu. Syarat tersebut melipui kecocokan organ dari donor dan resipen.
Donor organ adalah pemindahan organ tubuh manusia yang masih memiliki daya hidup dan sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan tidak berfungsi dengan baik apabila diobati dengan teknik dan cara biasa, bahkan harapan hidup penderitan hampir tidak ada lagi. Sedangkan resipien adalah orang yang akan menerima jaringan atau organ dari orang lain atau dari bagian lain dari tubuhnya sendiri. Organ tubuh yang ditansplantasikan biasa adalah organ vital seperti ginjal, jantung, dan mata. namun dalma perkembangannya organ-organ tubuh lainnya pun dapat ditransplantasikan untuk membantu ornag yang sangat memerlukannya.
Menurut pasal 1 ayat 5 Undang-undang kesehatan,transplantasi organ adalah rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk menggantikan organ dan atau jaringan tubuh. Pengertian lain mengenai transplantasi organ adalah berdasarkan UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, transplantasi adalah tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk mengganti jaringan dan atau organ tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.
            Jika dilihat dari fungsi dan manfaatnya transplantasi organ dapat dikategorikan sebagai ‘life saving’. Live saving maksudnya adalah dengan dilakukannya transplantasi diharapkan bisa memperpanjang jangka waktu seseorang untuk bertahan dari penyakit yang dideritanya.  
B.  Klasifikasi Transplantasi Organ
Transplantasi ditinjau dari sudut si penerima, dapat dibedakan menjadi:
1.    Autotransplantasi
 pemindahan suatu jaringan atau organ ke tempat lain dalam tubuh orang itu sendiri.
2.      Homotransplantasi
pemindahan suatu jaringan atau organ dari tubuh seseorang ke tubuh orang lain.
3.      Heterotransplantasi
pemindahan organ atau jaringan dari satu spesies ke spesies lain.
4.      Autograft
Transplantasi jaringan untuk orang yang sama. Kadang-kadang hal ini dilakukan dengan jaringan surplus, atau jaringan yang dapat memperbarui, atau jaringan lebih sangat dibutuhkan di tempat lain (contoh termasuk kulit grafts , ekstraksi vena untuk CABG , dll) Kadang-kadang autograft dilakukan untuk mengangkat jaringan dan kemudian mengobatinya atau orang, sebelum mengembalikannya (contoh termasuk batang autograft sel dan penyimpanan darah sebelum operasi ).
5.     Allograft
Allograft adalah suatu transplantasi organ atau jaringan antara dua non-identik anggota genetis yang sama spesies . Sebagian besar jaringan manusia dan organ transplantasi yang allografts. Karena perbedaan genetik antara organ dan penerima, penerima sistem kekebalan tubuh akan mengidentifikasi organ sebagai benda asing dan berusaha untuk menghancurkannya, menyebabkan penolakan transplantasi .
6.      Isograft
Sebuah subset dari allografts di mana organ atau jaringan yang ditransplantasikan dari donor ke penerima yang identik secara genetis (seperti kembar identik ). Isografts dibedakan dari jenis lain transplantasi karena sementara mereka secara anatomi identik dengan allografts, mereka tidak memicu respon kekebalan.
7.      xenograft dan xenotransplantation
Transplantasi organ atau jaringan dari satu spesies yang lain. Sebuah contoh adalah transplantasi katup jantung babi, yang cukup umum dan sukses. Contoh lain adalah mencoba-primata (ikan primata non manusia)-transplantasi Piscine dari pulau kecil (yaitu pankreas pulau jaringan atau) jaringan.
8.      Transplantasi Split
Kadang-kadang organ almarhum-donor, biasanya hati, dapat dibagi antara dua penerima, terutama orang dewasa dan seorang anak. Ini bukan biasanya sebuah pilihan yang diinginkan karena transplantasi organ secara keseluruhan lebih berhasil.
9.      Transplantasi Domino
Operasi ini biasanya dilakukan pada pasien dengan fibrosis kistik karena kedua paru-paru perlu diganti dan itu adalah operasi lebih mudah secara teknis untuk menggantikan jantung dan paru-paru pada waktu yang sama. Sebagai jantung asli penerima biasanya sehat, dapat dipindahkan ke orang lain yang membutuhkan transplantasi jantung. (parsudi,2007).
Jika ditinjau dari sudut penyumbang atau donor alat dan atau jaringan tubuh, maka transplantasi dapat dibedakan menjadi :
a. Transplantasi dengan donor hidup
Transplantasi dengan donor hidup adalah pemindahan jaringan atau organ tubuh seseorang ke orang lain atau ke bagian lain dari tubuhnya sendiri tanpa mengancam kesehatan. Donor hidup ini dilakukan pada jaringan atau organ yang bersifat regeneratif, misalnya kulit, darah dan sumsum tulang, serta organ-organ yang berpasangan misalnya ginjal.
b.    Transplantasi dengan donor mati atau jenazah
Transplantasi dengan donor mati atau jenazah adalah pemindahan organ atau jaringan dari tubuh jenazah ke tubuh orang lain yang masih hidup. Jenis organ yang biasanya didonorkan adalah organ yang tidak memiliki kemampuan untuk regenerasi misalnya jantung, kornea, ginjal dan pankreas.

C.  Penyebab Transplantasi Organ
Ada dua komponen penting yang mendasari tindakan transplantasi, yaitu:
1.      Eksplantasi : usaha mengambil jaringan atau organ manusia yang hiudp atau yang sudah meninggal.
2.      Implantasi : usaha menempatkan jaringan atau organ tubuh tersebut kepada bagian tubuh sendiri atau tubuh orang lain.
Disamping itu, ada dua komponen penting yang menunjang keberhasilan tindakan transplantasi, yaitu :
1. Adaptasi donasi, yaitu usaha dan kemampuan menyesuaikan diri orang hidup yang diambil jaringan atau organ tubuhnya, secara biologis dan psikis, untuk hidup dengan kekurangan jaringan atau organ. (anonim,2006)
2. Adaptasi resepien, yaitu usaha dan kemampuan diri dari penerima jaringan atau organ tubuh baru sehingga tubuhnya dapat menerima atau menolak jaringan atau organ tersebut, untuk berfungsi baik, mengganti yang sudah tidak dapat berfungsi lagi.
Organ atau jaringan tubuh yang akan dipindahkan dapat diambil dari donor yang hidup atau dari jenazah orang baru meninggal dimana meninggal sendiri didefinisikan kematian batang otak. Organ-organ yang diambil dari donor hidup seperti : kulit, ginjal, sumsum tulang dan darah (tranfusi darah). Organ-organ yang diambil dari jenazah adalah : jantung, hati, ginjal, kornea, pancreas, paru-paru dan sel otak.

D.  Transplantasi Organ dari Segi Agama
1.    Transplantasi Organ dari Segi Agama Islam
Didalam syariat Islam terdapat 3 macam hukum mengenai transplantasi organ dan donor organ ditinjau dari keadaan si pendonor. Adapun ketiga hukum tersebut, yaitu :
a. Transplantasi Organ Dari Donor Yang Masih Hidup
Dalam syara seseorang diperbolehkan pada saat hidupnya mendonorkan sebuah organ tubuhnya atau lebih kepada orang lain yang membutuhkan organ yang disumbangkan itu, seperti ginjal. Akan tetapi mendonorkan organ tunggal yang dapat mengakibatkan kematian si pendonor, seperti mendonorkan  jantung, hati dan otaknya. Maka hukumnya tidak diperbolehkan, berdasarkan firman Allah SWT dalam Al – Qur’an :
1)   surat Al – Baqorah ayat 195
dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan
2)   An – Nisa ayat 29
dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri
3)   Al – Maidah ayat 2
dan jangan tolong – menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.
b. Transplantasi Organ dari Donor yang Sudah meninggal
Sebelum kita mempergunakan organ tubuh orang yang telah meninggal, kita harus mendapatkan kejelasan hukum transplantasi organ dari donor tersebut. Adapun beberapa hukum yang harus kita tahu, yaitu :
1.  Dilakukan setelah memastikan bahwa si penyumbang ingin menyumbangkan organnya setelah dia meninggal. Bisa dilakukan melalui surat wasiat atau menandatangani kartu donor atau yang lainnya.
2.  Jika terdapat kasus si penyumbang organ belum memberikan persetujuan terlebih dahulu tentang menyumbangkan organnya ketika dia meninggal maka persetujuan bisa dilimpahkan kepada pihak keluarga penyumbang terdekat yang dalam posisi dapat membuat keputusan atas penyumbang.
3.  Organ atau jaringan yang akan disumbangkan haruslah organ atau jaringan yang ditentukan dapat menyelamatkan atau mempertahankan kualitas hidup manusia lainnya.
4. Organ yang akan disumbangkan harus dipindahkan setelah dipastikan secara prosedur medis bahwa si penyumbang organ telah meninggal dunia.
5.  Organ tubuh yang akan disumbangkan bisa juga dari korban kecelakaan lalu lintas yang identitasnya tidak diketahui tapi hal itu harus dilakukan dengan seizin hakim.
Seorang dokter atau seorang penguasa tidak berhak memanfaat­kan salah satu organ tubuh seseorang yang sudah meninggal untuk ditransplantasikan kepada orang lain yang membutuhkan­nya.Adapun hukum kehormatan mayat dan penganiayaan terha­dapnya, maka Allah SWT telah menetapkan bahwa mayat mempun­yai kehormatan yang wajib dipelihara sebagaimana kehormatan orang hidup. Dan Allah telah mengharamkan pelanggaran terha­dap kehormatan  mayat sebagaimana pelanggaran terhadap kehor­matan orang hidup. Allah menetapkan pula bahwa menganiaya mayat sama saja dosanya dengan menganiaya orang hidup. Diriwayatkan dari A’isyah Ummul Mu’minin RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Memecahkan tulang mayat itu sama dengan memecahkan tulang orang hidup.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban).
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amar bin Hazm Al Anshari RA, dia berkata,”Rasulullah pernah melihatku sedang bersandar pada sebuah kuburan. Maka beliau lalu bersabda : “Janganlah kamu menyakiti penghuni kubur itu !” Hadits-hadits di atas secara jelas menunjukkan bahwa mayat mempunyai kehormatan sebagaimana orang hidup. Begitu pula melanggar kehormatan dan menganiaya mayat adalah sama dengan melanggar kehormatan dan menganiaya orang hidup.

G.  Transplantasi Organ dari Segi Norma Masyarakat
Beberapa pihak yang ikut terlibat dalam usaha transplantasi adalah donor hidup, jenazah dan donor mati, keluarga dan ahli waris, resipien, dokter dan pelaksana lain, dan masyarakat. Hubungan pihak-pihak itu dengan masalah etik dan moral dalam transplatasi adalah :
1.    Donor Hidup
Adalah orang memberikan jaringan atau organnya kepada orang lain (resipien). Sebelum memutuskan untuk menjadi donor, seseorang harus mengetahui dan mengerti resiko yang dihadapi, baik di bidang medis, pembedaan maupun resiko untuk pembedahannya lebih lanjut sebagai kekurangan jaringan atau organ yang telah dipindahkan. Disamping itu, untuk menjadi donor, seseorang tidak boleh mengalami tekanan psikologis. Hubungan psikis dan emosi harus sudah difikirkan olehdonor hidup tersebut untuk mencegah timbulnya masalah.

2.    Jenazah dan Donor Mati
Adalah orang yang semasa hidupnya telah mengizinkan atau berniat dengan sungguh-sungguh untuk memberikan jaringan atau organ tubuhnya kepada yang memerlukan apabila ia telah meninggal. Kapan seorang donor itu dapat dikatakan meninggal secara wajar, dan apabila sebelum meninggal donor itu sakit, sudah sejauh mana pertolongan dari dokter yang merawatnya. Semua itu untuk mencegah adanya tuduhan dari keluarga donor atau pihak lain bahwa tim pelaksana transplantasi telah melakukan upaya mempercepat kematian seseorang hanya untuk mengejar organ yang akan ditransplantasikan.
3.    Keluarga donor dan ahli waris
Kesepakatan keluarga donor dan resipien sangat diperlukan untuk menciptakan saling pengertian dan menghindari konflik semaksimal mungkin ataupun tekanan psikis dan emosi di kemudian hari. Dari keluarga resipien sebenarnya hanya dituntut suatu pengargaan kepada donor dan keluarganya dengan tulus. Alangkah baiknya apabila dibuat suatu ketentuan untuk mencegah timbulnya rasa tidak puas kedua belah pihak.
4.    Resipien
Adalah orang yang menerima jaringan atau organ orang lain. Pada dasarnya, seorang penderita mempunyai hak untuk mendapatkan perawatan yang dapat memperpanjang hidup atau meringankan penderitanya. Seorang resipien harus benar-benar mengerti semua hal yang dijelaskan olah tim pelaksana transplantasi. Melalui tindakan transplantasi diharapkan dapat memberikan nilai yang besar bagi kehidupan resipien. Akan tetapi, is harus menyadari bahwa hasil transplantasi terbatas dan ada keungkinan gagal. Juga perlu didasari bahwa jika ia menerima untuk transplantasi berarti ia dalam percobaan yang sangat berguna bagi kepentingan orang banyak di masa yang akan datang.
5.    Masyarakat
Secara tidak sengaja masyarakat turut menentukan perkembangan transplantasi. Kerjasama tim pelaksana dengan para cendekiawan, pemuka masyarakat, atau pemuka agama diperlukan untuk mendidik masyarakat agar lebih memahami maksud dan tujuan luhur usaha transplantasi. Dengan adanya pengertian ini kemungkinan penyediaan organ yang segera diperlukan, atas tujuan luhur akan terpenuhi.



BAB III
PEMBAHASAN
A.     Analisa Kasus
Dari beberapa kasus diatas dapat kita analisa dari segi penyebab atau motivasi pelaku melakukan transplantasi organ. Kasus pertama menyatakan bahwa kasus perdagangan anak yang terjadi di Jember tidak menutup kemungkinan bahwa anak yang diperjualbelikan bisa saja organ tubuhnya dimanfaatkan juga. Mengingat kebutuhan organ di luar negeri masih sangat tinggi sedangkan organ yang tersedia bisa dibilang kurang. Dari motivasi ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa kasus pertama dilakukan dengan motivasi uang. Sedangkan sumber organ diperoleh dari anak-anak yang diperjualbelikan.
Kasus kedua mengungkapkan bahwa transplantasi organ harus dilakukan oleh seseorang yang professional. Jika transplantasi organ tidak dilakukan oleh orang yang benar-benar mengerti tentang transplantasi organ, maka resiko gagal lebih tinggi. Pada kasus ini, sumber organ yang digunakan untuk transplantasi hampir sama dengan kasus pertama. Seperti diungkapkan Arist Merdeka Sirait Ketua Komnas Perlindungan anak, bahwa donor organ pastilah dilakukan oleh professional. Sedangkan untuk pangsa pasar, kemungkinan masih berada di dalam negeri karena untuk penjualan organ di luar negeri harus melalui jalur legal, seprti contohnya di Singapura dan Jepang.
Kasus ketiga menyatakan bahwa trasnplantasi dua organ bisa memperpanjang kesempatan hidup pengidab diabetes. Dikatakan seorang pasien bernama Tiffany Butcha didiagnosis mendertia diabetes tipe 1 (diabetes remaja), penyakit ini dikarenakan sistem imunitas mengalami hipersensitiv, ia menyerang dirinya sendiri. Sehingga imunitas merusak sel-sel yang berada di pankreas, dan pankreas tidak lagi memproduksi insulin atau terganggu dalam produksi insulin. Dalam kasus ini Tiffany Butcha penderita diabetes 1, membutuhkan suntikan insulin untuk bertahan hidup. Apalagi diabetes juga mempunyai pengaruh yang buruk terhadap ginjal. Pada usia 30 tahun Tiffany divonis menderita gagl ginjal, karena penyakitnya itu ia harus menjalani cuci darah 3 kali seminggu. Hal ini tentu saja sangat mengganggu aktivitas Tiffany. Akhirnya Dr. Wellen yang merawat Tiffany menyarankan untuk melakukan transplantasi organ. Tidak tanggung-tanggung, Tiffany disarankan menjalani 2 operasi transplantasi. Yaitu transplantasi organ ginjal dan pankreas. Alasannya adalah jika tiffany hanya melakukan transplantasi ginjal, maka penyakit diabetesnya akan menyerang ginjalnya yang baru. Jika dilakukan transplantasi 2 organ (ginjal dan pankreas) kemungkinan tersebut bisa dihindari. Karena kadar gula darah akan kembali normal dengan adanya pankreas baru dan ginjal akan tetap berfungsi normal karena kemungkinan ginjal terserang diabetes juga telah diminimalisir. Dengan dilakukannya transplantasi dua organ kepada penderita diabetes, hal ini dapat meningkatkan kemungkinan hidup penderita dari 30 % menjadi 80 %.
Pada kasus keempat, dengan judul remaja berusia 14 tahun hidup tanpa jantung selama 4 bulan. Seorang gadis berusia 14 tahun, bernama D’zhana Simmons mengalami pebesaran jantung dan dianjurkan untuk melakukan transplantasi organ jantung. Saat transplantasi yang pertama dilakukan, jantung yang dicangkokkan tidak berfungsi maksimal, dan beresiko pecah. Maka dokter mengharuskan D’zhana melakukan transplantasi untuk kedua kalinya. Sebelum dilakukan trasnplantasi yang kedua, D’zhana dipasang alat pompa buatan untuk menggantikan fungsi jantungnya. Selama empat bulan, gadis belia itu kerap mengalami kesulitan bernafas, selain juga mengalami gagal jantung dan lever serta pendarahan pada system pencernaan. Dan yang lebih mendebarkan lagi, perlu setidaknya empat orang untuk terus memantau kondisi D’Zhana setiap waktu, dan setidaknya satu orang yang mengendalikan mesin yang menjadi bagian terpisah dari alat pompa jantung tersebut. Akhirnya transplantasi jantung yang kedua berhasil dilakukan setelah D’zhana haruus menggunakan alat pompa buatan selama 4 bulan dan sekarang D’zhana bisa berkumpul dengan keluarganya lagi.
Pada kasus kelima, seorang bayi bernama Fahia Raihana mengalami kelainan tata letak jantung. Jantung manusia yang biasanya berada di sebelah kiri, kali ini berada di sebelah kanan. Akibatnya organ tubuh yang lain juga tidak berfungsi optimal. Selain itu akibat kelainan tata letak jantung terjadi kebocoran pada bilik kanan dan kiri jantung sang bayi. Hal ini yang menyebabkan kondisinya sering membiru bila melakukan aktivitas berlebih. Dokter yang dirujuk oleh puskesmas yang merawat Raihana, manganjurkan Raihana melakukan transplantasi organ. Kelainan bawaan yang dialami Raihana  mengakibatkannya mengalami gangguan dalam organ pompa darah. Karena kondisi orang tua Raihana yang tidak mampu, akhirnya tindakan yang dilakukan terhadap Raihana hanya memperkecil tekanan darah balik ke jantung. Sehingga jantungnya tidak akan bekerja dengan beban yang berat. Operasi pun hanya bisa menyembuhkannya dari kelainan bawaan, sedangkan letak jantung tidak mungkin dapat dipindahkan.
Pada kasus keenam, Angky Camaro direktur PT. Indofood Sumber Makmur, harus melakukan transplantasi ginjal, karena penyakit diabetes yang dideritanya. Angky berulang kali harus menjalani operasi karena abses dan nanah yang dikarenakan kadar kreatininnya berulang kali tidak stabil meski telah melakukan diet kreatinin.  Oleh dokter yang merawatnya, ia dianjurkan untuk melakukan transplantasi ginjal atau cuci darah. Akhirnya Angky memutuskan untuk transplantasi ginjal, karena cuci darah yang ditawarkan, tentu saja harus dilakukan berulang kali dan menyita banyak waktu. Hal ini tentu akan sangat merugikan Angky yang notabene seorang pebisnis.

B.      Pembahasan
Dari analisa beberapa kasus diatas, dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori motivasi atau penyebab seseorang melakukan transplantasi. Kasus pertama dan kedua menyatakan bahwa transplantasi organ dilakukan oleh seorang yang telah professional serta beberapa kasus penculikan anak, bisa saja berkembang menjadi kasus penjualan organ tubuh. Pada kasus ini bisa dikatakan motivasinya adalah uang. Kasus ketiga dan keenam serta keempat dan kelima, menyatakan bahwa pelaku melakukan transplantasi dikarenakan faktor penyakit yang dideritanya. Penyakit tersebut jika tidak segera dilakukan transplantasi, dikhawatirkan bisa menimbulkan komplikasi yang lebih berbahaya. Pada kasus ketiga dan keenam dikarenakan penyakit diabetes. Pada kasus keempat dan kelima dikarenakan penyakit jantung.
Jika dilihat dari segi hokum, kategori pertama jelas melanggar hokum. Dijelaskan dalam UU. No 23 tahun 1992, pasal 34 ayat 2. Yang berbunyi “pengambilan organ dan atau jaringan tubuh dari seorang donor harus memperhatikan kesehatan donor yang bersangkutan dan ada persetujuan donor dan ahli waris atau keluarganya”. Pada kasus pertama dan kedua, diungkapkan sumber organ bisa berasal dari anak-anak korban penculikan. Hal ini tentu saja tidak boleh dilakukan. Anak-anak korban penculikan tentu saja tidak akan tahu apa yang dilakukan terhadap tubuh mereka. Apalagi jika pengambilan organ anak-anak yang diculik dilakukan oleh orang yang tidak professional. Hal ini juga melanggar pasal 34 Ayat (1) berbunyi “Transplantasi organ dan atau jaringan tubuh hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu”. Pada kategori kedua, transplantasi dilakukan untuk pencegahan komplikasi penyakit yang lebih berbahaya. Jika dilihat dari  Pasal 15 Undang-undang N0. 18 tahun 1981 yang berbunyi “Sebelum persetujuan tentang transplantasi alat dan jaringan tubuh manusia diberikan oleh calon donor hidup, calon donor yang bersangkutan terlebih dahulu diberitahu oleh dokter yang merawatnya, termasuk dokter konsultan mengenai sifat operasi, akibat-akibat dan kemungkinan yang dapat terjadi . dokter yang merawatnya harus yakin benar bahwa calon donor yang bersangkutan telah menyadari sepenuhnya arti dari pemberitahuan tersebut”, maka kategori kedua tidak melanggar hukum. Karena dokter yang merawat pasien-pasien tersebut telah menjelaskan prosedur dan resiko-resiko yang terjadi. Dokter juga telah memberikan alternative pengobatan, tindakan selanjutnya kembali kepada keputusan pasien. Jadi jika pada dasarnya, transplantasi organ menurut hukum, boleh dilakukan dengan ketentuan, transplantasi dilakukan dengan persetujuan pendonor dan resipien serta pendonor maupun resipien paham betul bagaimana transplantasi akan dilakukan serta resiko apa saja yang akan terjadi.
Agama memandang transplantasi organ berdasar motivasi yang mendasari dan darimana organ diperoleh. Agama Islam memperbolehkan transplantasi organ jika donor organ berasal dari orang yang masih hidup serta bukan organ tunggal yang dapat menimbulkan kematian bagi pendonor. Hal tersebut tertulis di Al-Qur’an dalam beberapa surat : yang pertama surat Al-Baqoroh ayat 195 yang artinya “dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan’, surat yang kedua adalah AnNisa ayat 29, yang artinya “dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri”. Jika donor berasal dari organ seseorang yang sudah meninggal, hal tersebut juga dilarang. Dalam sebuah hadist Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amar bin Hazm Al Anshari RA, dia berkata,”Rasulullah pernah melihatku sedang bersandar pada sebuah kuburan. Maka beliau lalu bersabda : “Janganlah kamu menyakiti penghuni kubur itu !” Hadits tersebut  secara jelas menunjukkan bahwa mayat mempunyai kehormatan sebagaimana orang hidup. Begitu pula melanggar kehormatan dan menganiaya mayat adalah sama dengan melanggar kehormatan dan menganiaya orang hidup. Pada kasus  ketiga transplantasi dilakukan dengan sumber organ dari seorang korban kecelakaan. Tentu saja hal tersebut melanggar hukum agama Islam. Dalam agama kristen tidak dijelaskan secara signifikan mengenai aturan  transplantasi organ, tetapi menyatakan transplantasi organ boleh dilakukan dengan motivasi kemanusiaan, bukan karena uang semata. Dalam agama hindu tidak melarang bahkan menganjurkan umatnya unutk melaksanakan transplantasi organ tubuh dengan dasar yajna (pengorbanan tulus ikhlas dan tanpa pamrih) untuk kesejahteraan dan kebahagiaan sesama umat manusia. Dapat dijumpai dalam kitab Bhagawadgita II.22 sebagai berikut: “Wasamsi jirnani yatha wihaya nawani grihnati naro’parani, tatha sarirani wihaya jirnany anyani samyati nawani dehi” Artinya: seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru dan membuka pakaian lama, begitu pula Sang Roh menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan lama yang tiada berguna.
Dalam agama budha dijelaskan  donor adalah salah  satu  bentuk  kamma baik, ketika seseorang berdonor  kornea mata, dipercaya dalam kelahiran yang berikutnya, ia akan mempunyai mata lebih indah dan sehat dari pada mata yang ia miliki dalam kehidupan saat ini. donor adalah salah  satu  bentuk  kamma baik, ketika seseorang berdana kornea mata, dipercaya dalam kelahiran yang berikutnya, ia akan mempunyai mata lebih indah dan sehat dari pada mata yang ia miliki dalam kehidupan saat ini. Jika ditarik kesimpuan, maka kategori pertama jelas dilarang karena dilakukan atas dasar komersiil bukan karena kemanusiaan. Untuk kasus kategori kedua, boleh dilakukan karena dilakukan untuk penyembuhan dan didasari kemanusiaan. Tetapi pada kasus ketiga, organ diperoleh dari orang yang telah meninggal, oleh karena itu, dilarang menurut agama Islam.
     























BAB V
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa transplantasi adalah suatu rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain atau tubuh sendiri dalam rangka pengobatan untuk mengganti jaringan dan atau organ tubuh yang tidak berfungsi dengan baik atau mengalami suatu kerusakan. Transplantasi dapat diklasifikasikan dalam beberapa faktor,  seperti  ditinjau dari sudut si penerima atau resipien organ dan penyumbang organ itu sendiri. Jika dilihat dari si penerima organ meliputi autotransplantasi, homotransplantasi, heterotransplantasi, autograft, allograft, isograft, xenograft dan xenotransplantation, transplantasi split serta transplantasi domino. Sedangkan dilihat dari sudut penyumbang meliputi transplantasi dengan donor hidup dan donor mati (jenazah). Banyak sekali faktor yang menyebabkan sesorang melakukan transplantasi organ. Antara lain untuk kesembuhan dari suatu penyakit (misalnya kebutaan, rusaknya jantung dan ginjal), Pemulihan kembali fungsi suatu organ, jaringan atau sel yang telah rusak atau mengalami kelainan, tapi sama sekali tidak terjadi kesakitan biologis (contoh: bibir sumbing).

B.  Saran
Saran yang ingin disampaikan bagi pembaca adalah jika ingin melakukan transplantasi organ, pahami betul dari mana organ terseebut berasal. Dari donor hidup ataukah dari seseorang yang sudah meninggal. Usahakan untuk mencari upaya penyembuhan lain sebelum memilih transplantasi organ sebagai alternatif pengobatan.
Untuk penulis, saran yang ingin disampaikan adalah, lakukan penulisan dengan objektif dan gunakan bebagai macam referensi yang ada agar tulisan benar-benar terbukti validitasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar